Hachikō Menjadi Simbol Kesetiaan Serta Cinta Tanpa Akhir

Hachikō Menjadi Simbol Kesetiaan Serta Cinta Tanpa Akhir

Hachikō Menjadi Simbol Kesetiaan Serta Cinta Tanpa Akhir

Hachikō ialah anjing yg mungkin tidak perlu diperkenalkan. menjadi simbol kesetiaan serta cinta tanpa akhir, Hachikō lalu menjadi kenyataan budaya, ikon tidak hanya pada negara Sumbernya Jepang tetapi juga pada semua dunia.

Akita yang berwarna cokelat keemasan serta murni lahir pulang pada akhir trend gugur tahun 1923 di sebuah peternakan pada date, Prefektur Akita, Jepang. Setahun kemudian, Hachikō diadopsi oleh seorang profesor, Hidesabur Ueno, yg membawanya buat tinggal pada Shibuya, Tokyo.

Hidesaburō Ueno ialah seseorang profesor di departemen pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. pria itu akan naik kereta ke daerah kerjanya hanya buat disambut sang anjingnya yg setia pada perjalanan kembali.

Di penghujung hari, anjing pintar akan meninggalkan tempat tinggal untuk menunggu pemiliknya pada Stasiun Shibuya. Sayangnya, pada 21 Mei 1925, Hidesabur Ueno tidak pulang.

Dia menderita pendarahan otak waktu menyampaikan kuliah serta mangkat tanpa pernah pulang ke stasiun kereta api tempat Hachikō menunggunya.

Hachikō Menjadi Simbol Kesetiaan Serta Cinta Tanpa Akhir

Ueno Hidesaburo adalah seseorang profesor pada Departemen Pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo (sekarang Universitas Tokyo).

Tidak pada pasar untuk anak anjing, Ueno tiba-tiba mendapatkan Hachikō menjadi anugerah asal mantan muridnya, Mase Chiyomatsu, kepala Bagian Budidaya huma Tanam di prefektur Akita.

Seseorang sarjana serta otoritas yang dihormati di bidang teknik sipil pertanian pada Jepang, Ueno diakui atas kontribusinya yg luar biasa pada bidangnya.

Serta sementara dia ialah seseorang pecinta anjing (dia mempunyai 16 anjing pada hidupnya), dia tidak pernah mempunyai anak anjing seperti Hachikō.

Keduanya akan mengalami https://www.sbobetcb.com/ awal yg getir, namun itu hanya memperkuat kasih sayang mereka.

Di demam isu dingin tahun 1924 Hachikō tiba pada Tokyo buat bertemu Ueno. Seekor anak anjing yg rapuh dengan kesehatan yg buruk , Hachikō tidur pada bawah tempat tidur bergaya barat Ueno, terbungkus kain.

Di masa itu sangat jarang menemukan anjing pada dalam ruangan. Hachikō sebagai lebih lemah dan mengalami demam, menyebabkan Ueno dan istrinya mempertinggi upaya mereka buat merawatnya agar kembali sehat.

Mereka menjaga kepalanya permanen dingin menggunakan kantong es dan kantong air panas di samping tubuh kecilnya yg lemah.

Dalam enam bulan berikutnya, kesehatan Hachikō membaik. Ueno mengajak Hachikō jalan-jalan dengan anjingnya yg lain, 2 Penunjuk Inggris bernama John serta Esu.

John serta Hachiko bergaul dengan baik; tetapi, Esu agresif terhadapnya, mungkin merasakan persahabatan unik yg dimiliki pemiliknya dengan Hachikō.

Meskipun demikian, Ueno sangat memperhatikan Hachikō, memenuhi setiap kebutuhannya.

Dia menyikat mantel tebalnya setiap hari serta memberinya makan nasi yg kaya menggunakan kaldu, susu, dan makanan hati.

Beliau memanjakan Hachikō mirip para pecinta anjing terkini memanjakan anak-anaknya. di masa itu, kasih sayang terhadap binatang mirip itu di luar norma.

Setiap pagi Hachikō menemani Ueno ke Stasiun Shibuya pada mana keduanya akan berpisah buat hari itu, Ueno naik kereta buat bekerja.

Hujan atau salju, Hachikō akan balik ke stasiun buat menyapa teman tercintanya di penghujung hari.

Rutinitas mereka berlanjut selama bertahun-tahun, serta memberikan ketenangan yg kontinu dan persahabatan yang tidak tergoyahkan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.